Langsung ke konten utama
AGAMA DAN KEBERADAAN MANUSIA MENUJU MASA DEPAN
M. IRSAN MAULANA
MANAJEMEN DAKWAH/ IV-B
FAKULTAS DAKWAH DAN KOMUNIKASI
UIN SUNAN GUNUNG DJATI BANDUNG
Email : maulahamdan7@gmail.com
Suatu pandanagan dasar mengenai peranan agama dan manusia ibarat dua sisi sebuah benda yang sama, dan bagaikan gula yang diturunkan dengan manisnya. Artinya peranan agama dengan manusia tidak akan pernah punah sepanjang sejarah masyarakat manusia. Karena agama telah menjadi sebuah persoalan yang tidak akan pernah terlewatkan sepanjang masa, dan akan menjadi persoalan yang cukup menyita sebagian besar energi kita. Karena agama merupakan Fitrah Suci yang telah diturunkan dan telah menyatu semenjak manusia itu dilahirkan atau diciptakan. Sehingga sebagai konsekuensinya adalah “kematian Agama meniscayakan kematian juga pada umat manusia”.
Melihat perspektif menuju masa depan bersama Agama dan Keberadaannya terhadap manusia. Secara sosiologis, agama tidak diturunkan Allah ke bumi, kecuali untuk membimbing dan menjadikannya sebagai alterrnatif peta bagi manusia menuju jalan yang lurus. Manusia tidak akan pernah diciptakan atau diturunkan ke bumi tanpa dilengkapi dengan adanya agama sebagai pembimbingnya. Agama, manusia dan dunia ini bagaikan masinis dengan kereta api dan relnya. Salah satu fitrahnya manusia yakni tidak akan pernah lepas akan segala kebutuhan untuk meniti kehidupan di dunia ini, dan itu merupakan suatu yang wajar. Dan dari semua kebutuhan itu, agama merupakan salah satu kebutuhan manusia yang amat sentral dan dibutuhkan manusia untuk mendapatkan kedamaian spiritualisme yang sejati.
Pada saat peradaban dan berkembangnya dunia ini yang cenderung hampir ke materialisme yang memang demikian mencekik manusia, seperti halnya sekarang ini, manusia mulai sadar akan kebutuhannya akan kedamaian spiritualismenya. Sistem kapitalisme yang hanya menuntut manusia pada kebutuhan dan panggilan yang hanya mendatangkan pada materi saja, telah membuat masyarakat kita ini jengah dan dan sangat jenuh sehingga akhirnya membuat mereka kering dan haus akan spritual. Mereka kemudian berbondong-bondong merangkul agama – atau sesuatu yang akan mendatangkan atau memanggil mereka pada sesuatu yang mampu memberi ketenangan dan kedamaian spiritualisme yang sejati. Dan untuk masa sekarang, bahkan untuk masa-masa yang akan datang, agama dianggap sebagai alternatif terapis untuk krisis manusia pada era-modern saat ini. Bahkan agama tampaknya akan semakin dijadikan tumpuan harapan terakhir dan selamanya untuk mereka.
Alhasillah, agama merupakan kebutuhan yang wajib dan abadi sepanjang sejarah adanya umat manusia di bumi ini. Ia (agama) akan tetap ada bersama manusia itu sendiri. Walaupun dalam sejarahnya para sarjana ilmu-ilmu sosial dan cedikiawan di bidang-bidang lain dulu menyatakan bahwa agama itu sudah ketinggalan zaman, dan kedudukannya dalam masyarakat yang akan digantikan sains modern hanya masalah waktu saja. Tetapi penemuan-penemuan ilmu sosial yang lebih matang memberi kesaksian yang mengesankan terhadap fakta bahwa fungsi-fungsi sosial {dan psikologis} yang dimainkan oleh agama ternyata bersifat fundamental. Kalangan revolusioner yang membawa faham-faham baru, baik orang perancis maupun rusia, yang mencoba menghapuskan dan membunuh yang namanya agama, ternyata dalam sejarahnya mencatat mereka para kalangan revoluioner hanya mampu dan berhasil mengganti nama agama saja, tanpa bisa mereka menghapuskannya. Sebaliknya, sains itu sendiri bahkan juga bisa diubah oleh pendukung-pendukungnya yang sekarang dari statusnya sebagai disiplin ilmu empirik menjadi sesembahan yang suci.
Meskipun kemajuan sains belum bisa menggantikan fungsi-fungsi pokok agama, mengahapuskan dan membunuhnya, tetapi ia berhasil membuat beberapa pengamalan agama tertentu dianggap ketinggalan zaman oleh sebagian umat manusia atau masyarakat tertentu. Dan fakta ini sungguh sangat penting sekali bagi pengkaji agama dan masyarakat. Bagaimana agar masyarakat ini menghadapi persoalan semacam ini, ketika ada paradigma sains muncul dan mematahkan akan pengamalan sebagian ajaran agamanya. Sehingga tidak bisa di elakkan munculnya anggapan dalam massyarakat tertentu bahwa pengamalan agamanya sudah tidak relevan dengan keadaaan dan peradaban yang semakin maju.
Ilmu humaniora tidak sering memberikan jawaban dan penjelasan yang memuaskan terhadap manusia mengenai tujuan kehidupan manusia kedepannya. Saat setiap manusia mengejar berbagai macam tujuan dan cita-cita mereka dengan berbagai cara dan jalan pula, masyarakat yang terorganisasikan tidak akan berbentuk. Tetapi agama mampu memberikan tujuan tertinggi sehingga masyarakat memiliki kesamaan arah dan tujuan serta tanggung jawab untuk mewujudkan suatu tantangan masyarakat yang berkeadilan. Dengan demikian, setiap anggota masyarakat terhindar dari rasa ketakutan dan menjadi sumber untuk bertahan hidup, maju, berkembang ke arah yang lebih baik dan tentunya mendapatkan kedamaian spiritualisme yang sejati dan yang di harapkan.

Referensi         :
1.      Agus, Ahmad Syafi’i, 2017. Sosiologi Islam, Simbiosa Rekatama Media, Bandung.
2.      Nottingham, Elizabeth K, 1996. Agama dan Masyarakat, Suatu Pengantar Sosiologi Agama, PT. RajaGrafindo Persada, Jakarta.

3.      H. Dadang, Kahmad, 2011. Sosiologi Agama, Pustaka Setia, Bandung.

Komentar